Home » » Permintaannya Untukmu Bapak 'Presiden'

Permintaannya Untukmu Bapak 'Presiden'

Pagi ini aku tidak sekolah, karena hari ini hari minggu. Aku berniat untuk jalan-jalan keluar rumah. Suasana hari minggu sungguh terasa. Para pedagang menjajakan barang dagangannya di tepian jalan. Berteriak untuk mempromosikan barang yang dijualnya. Hebat sekali ya mereka!!
Setelah lama berkeliling perutku terasa lapar, aku pun berniat pergi ke warung makanan yang ada di depanku. Namun ada yang terlihat ganjil disana. Sesosok anak dengan memakai pakaian kotor, berlama-lama melihat koran yang ia bawa ditangannya. Karena penasaran, aku hampiri dia. "Dek!! Sedang liat apa? kok serius banget keliatannya?" tanyaku. Ia tak lantas menjawab. Tapi raut wajahnya menjadi pucat dan ketakutan. "Ga usah takut, Kakak ngga jahat ko, Adek ngga menjawab juga ngga apa-apa ko" kataku dengan lembut. Ia masih belum mau menjawab. "Ya sudah, ikut kakak yuk kesitu" ajakku sambil menuntun tangannya. Ku ajak ia ke warung makanan tadi. Makanlah kami berdua disana. Setelah selesai makan, ku tanya ia kembali. "Dek? Coba liat dong koran yang tadi". Ia masih membisu, namun ia memberikan koran yang aku pinta tadi. Ternyata sesosok pria berwibawa terpampang besar disana. Ternyata juga pria itu adalah Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. "Dek, ini kan bapak SBY?". Ia hanya mengangguk. "Kamu suka sama beliau?" tanyaku kembali. Sekali lagi ia hanya mengangguk. Tak lama kemudian, ia mengeluarkan pulpen dan secarik kertas, lalu ia menulis dan memperlihatkan tulisannya padaku. *tulisannya : 'Kak, aku ini ga bisa bicara*. Hatiku langsung iba setelah membacanya. "Terus adek, kenapa adek bawa koran ini?" tanyaku dengan lembut. Ia kembali menulis. Kali ini agak lama, namun dengan sabar aku tunggu. *tulisannya : Setahun lalu, ibuku meninggal karena sakit akhirnya bapak yang mengurusku. Namun sebulan setelahnya, bapak pergi bekerja keluar kota. Tapi, sampai sekarang dia tidak pernah kembali pulang. Bahkan kabarnya pun tidak ada*. Emm.........malang sekali nasib anak ini. "Oh ya, terus kenapa adek bawa koran ini?". Kali ini ia tidak menulis, karena kertas yang dimilikinya telah habis. "Au ingi beemu baa peiden, au angen ama aah" (Aku ingin bertemu bapak presiden, aku kangen sama ayah). Walau ia bicara tidak lancar, namun aku bisa mengerti. Tak terasa air mataku menetes mendengar cerita anak ini. "Oh begitu yaa". "Ia, au uga pingin inta anda anganna" (Aku juga pingin minta tanda tangannya). Wahaha..konyol sekali permintaannya.
Akhirnya aku antar ia ke Jakarta. Dengan berbagai usaha, ia pun berhasil masuk media dan berita tersebut sampai di telinga sang presiden. Dengan terhormat, anak itu di undang ke Istana Negara untuk bertemu bapak presiden. Sesuai dengan keinginannya, anak itu menceritakan semua kisah hidupnya. Walau hanya menulis, namun sang presiden mengerti permintaan anak itu. Tak lupa ia pun diberi tanda tangan sang presiden di bajunya. Dan beliau berjanji untuk mencari ayah dari anak itu.
Hmmm...walau belum ku tau namanya, namun aku sangat senang melihat permintaannya itu terpenuhi. Tergambar wajahnya yang ceria seakan tanpa beban. Aku senang telah bertemu sosok anak itu. Walau aku tidak tau apa alasannya aku senang bertemu dengannya.

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.