Home » » Inflasi Tergerus Banjir

Inflasi Tergerus Banjir

Bencana alam yang mendera kita beberapa pekan terakhir ini bukan hanya menyengsarakan rakyat, tetapi memukul perekonomian nasional. Tingkat inflasi bulan Januari yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik kemarin tercatat 1,09 persen. Itulah yang membuat inflasi year on year menjadi 8,22 persen.

Padahal pemerintah berharap inflasi pada tahun ini bisa kembali ke kondisi normal pada kisaran angka 5 persen. Dampak kenaikan bahan bakar minyak tahun lalu diharapkan tidak lagi dirasakan di tahun 2014 ini.

Namun bencana alam ternyata membuyarkan semua harapan tersebut. Bencana alam yang melanda seluruh wilayah Indonesia memang dahsyat. Beberapa jalur transportasi terputus karena banjir dan longsor.

Terputusnya jalur transportasi seperti di pantai utara Pulau Jawa mengganggu distribusi barang. Selama sepekan lalu praktis truk-truk pembawa bahan kebutuhan pokok tertahan di jalur pantura, karena jalur di Jawa Barat dan Jawa Tengah tidak bisa dilewati sama sekali.

Sekarang ini curah hujan masih belum mereda. Bahkan wilayah akibat bencana boleh dikatakan semakin luas, karena beberapa daerah di Jawa Timur menghadapi bencana tanah longsor.

Menteri Keuangan Muhammad Chatib Basri mengkhawatirkan berbagai bencana yang terus terjadi. Terganggunya jalur distribusi akan mempengaruhi terhadap pasokan barang dan itu akan berdampak terhadap tingkat inflasi.

Memang bencana alam merupakan faktor yang tidak terduga dan sulit untuk dikendalikan. Namun kita harus memberikan respons yang tepat, khususnya terhadap distribusi barang agar tidak memberikan tekanan terhadap kondisi ekonomi. Itulah yang kita usulkan agar Tentara Nasional Indonesia disiagakan untuk membantu distribusi barang kebutuhan pokok.

Dengan tingkat inflasi yang tinggi, maka sulit bagi kita untuk bisa mengendalikan pelemahan terhadap nilai tukar rupiah. Sekarang ini nilai tukar rupiah terhadap dollar AS masih bertengger di atas Rp 12.000 dan ini menambah tekanan terhadap inflasi lagi karena masih tingginya angka impor.

Hal lain yang terbebani akibat tingginya angka inflasi adalah tingkat suku bunga. Sekarang ini seretnya likuiditas telah menyebabkan tingginya tingkat suku bunga pinjaman. Ditambah dengan tingginya tingkat inflasi, maka suku bunga pinjaman akan semakin memberatkan pengusaha. Ini tentunya akan berdampak terhadap daya saing produk kita.

Padahal pemerintah berharap bisa mendorong ekspor untuk memperbaiki neraca perdagangan dan neraca pembayaran. Tahun lalu kita dihadapkan kepada defisit neraca perdagangan sekitar 4 miliar dollar AS, sementara defisit transaksi berjalan sekitar 30 miliar dollar AS.

Kondisi ini memberikan tekanan terhadap perekonomian nasional. Sayangnya upaya pemerintah untuk mengendalikan kondisi ekonomi, terganggu oleh kebiasaan untuk melakukan impor. Seperti sekarang ini tiba-tiba terkuak impor beras asal Vietnam di pasar.

Hingga kini kita tidak tahu bagaimana beras impor itu bisa masuk ke pasar. Kementerian Perdagangan tidak mampu untuk mengungkap pelaku yang jelas-jelas mereka katakan ilegal. Tidak ada keberanian dari pejabat Kementerian Perdagangan untuk menunjuk importir nakal yang jelas-jelas mendistorsi pasar.

Berulangkali kita sampaikan bahwa dalam kondisi seperti ini, maka yang harus dilakukan adalah bagaimana pelaku ekonomi dalam negeri bisa terus menjalankan usahanya. Termasuk para petani yang menjadi pilar penyediaan kebutuhan pokopk masyarakat, harus dijaga agar bisa terus berproduksi.

Pemerintah seharusnya memberikan pemihakan yang jelas kepada petani. Bukan takut kepada para pedagang yang sekadar hanya hit and run. Mereka tidak memikirkan masalah produksi dan produktivitas nasional, tetapi sekadar memikirkan untung dan rugi saja.

Begitu sulitnya pemerintah untuk berpihak kepada petani. Inilah yang sangat kita sesalkan. Padahal berbagai bencana alam yang menimpa negeri ini, terutama memukul para petani. Ketika mereka sedang dihadapkan kepada ancaman kegagalan panen, kini dipukul lagi oleh masuknya beras impor.

Sekarang ini kita membutuhkan sikap seia-sekata antara perbuatan dan tindakan dari para pejabat negara. Kalau memang kita berniat untuk memulihkan kondisi perekonomian nasional, maka kita harus bertindak bersama-sama. Jangan kemudian ada yang mengail di air keruh, karena sekarang menjelang kampanye Pemilihan Umum 2014 di mana ada pihak-pihak yang membutuhkan dana cepat untuk kepentingan politiknya.

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.