Home » » Ini Cerita A Sampai Z Kasus Pembunuhan Feby Lorita

Ini Cerita A Sampai Z Kasus Pembunuhan Feby Lorita

Berharap ada Yang Ngasih sama

JAKARTA - Kedekatan Asido Simangunsong alias Edo dengan Feby Lorita berawal dari bisnis rental mobil. Edo kemudian menyatakan cinta, namun ditolak oleh gadis berparas oriental itu.

Setelah ditangkap polisi, diketahui Edo tak menaruh cinta murni kepada Feby. Dia hanya ingin menguasai kekayaan perempuan yang dibunuhnya itu.

Edo menceritakan, dia berhasil mendekati Feby. Padahal, warga di tempat tinggalnya, Apartemen Comfort Cibubur mengenal Feby sosok yang tertutup. Pemuda berusia 22 tahun itu juga telah memiliki kekasih berinisial ANS, yang selama ini diakui sebagai isteri. Edo dan ANS tinggal bersama di Apartemen Comfort Cibubur.

Kepada warga di Apartemen Comfort, Edo juga mengaku sudah punya anak dari hasil hubungan dengan ANS. Meski demikian, dia berhasil masuk ke kehidupan Feby. Kedekatan dari bisnis rental mobil milik Feby, berlanjut hingga Rabu, 22 Januari 2014. Hari itu, Edo dan Feby bertemu di kawasan UKI, Cawang, Jakarta Timur.

Menurut pengakuan Edo, dalam perjalanan dia mengutarakan isi hatinya kepada Feby. Ungkapan cinta itu ternyata tidak berbuah manis. Feby menolak jadi yang kedua.

"Apa-apan sih kamu Do. Gila kamu ya, bajingan kamu, kamu kan sudah punya isteri," kata Edo menirukan perkataan Feby, saat ditemui Okezone di Mapolres Jakarta Timur, Senin (3/1/2014).

Cinta ditolak, Edo pun emosi. Keduanya sempat terlibat debat panjang hingga saling melukai fisik. Feby terluka di bibir dan giginya rontok dipukul Edo. "Dia duluan pukul saya. Ini saya masih ada bekas cakaran. Saya balas juga pukul dia," ucap Edo.

Feby yang tidak terima pemukulan tersebut, mengancam akan menuntut Edo. Kemudian, Edo membujuk Feby. Dia bersedia membayar ganti rugi perawatan luka Feby sebesar Rp10 juta. 

Sebelum membayar ganti rugi, Edo ingin bertemu dengan orang tuanya terlebih dulu. Bersama Feby, dia kemudian pergi ke rumah orang tuanya di  Citayam, Bojong Gede, Depok, Jawa Barat.

Sesampai di rumah yang sedang tidak berpenghuni itu, keduanya sempat berbincang-bincang. Setelah  percakapan panjang keduanya kembali bertengkar.
Edo gelap mata hingga mencekik dan menganiaya Feby.

Tak hanya itu, Edo juga menusuk leher Feby dengan pisau. Dia mengaku ingin memastikan jika Feby sudah tewas. Jasad perempuan malang itu kemudian dimasukkan ke dalam mobil Nisan March F 1356 KA, milik Feby.

Selama beberapa hari, Edo membawa mobil tersebut keliling Jakarta, Depok dan Bekasi. Bahkan Edo mengaku beberapa hari setelah pembunuhan tersebut ia sempat kembali ke unit apartemen Feby dan mengambil televisi serta CPU komputer.

"Saat itu jasad Feby sempat saya biarkan di mobil," ucapnya.

Barang-barang milik Feby itu kemudian dibawa rumah ANS di Sawangan, Depok. Menurut Edo, ANS tidak mengetahui jika barang-barang tersebut hasil curian. Setelah memindahkan barang-barang tersebut, Edo kembali membawa mobil berisi jasad Feby.

Jasad Feby membusuk. Baunya membuat Edo tak lagi nyaman mengendarai mobil. Dia berniat membuang Jasad Feby. Sambil mengendarai mobil, Edo memikirkan lokasi yang tepat untuk membuang jasad Feby.

Akhirnya, Edo bertemu dengan kakak kandungnya, Daniel Simangunsong. Kepada kakaknya, Edo mengatakan, jika Feby tewas karena ditabraknya. Dia meminta Daniel membantu membuang jasad Feby.

Sabtu, 25 Januari, dini hari, keduanya berkeliling ke sejumlah tempat mencari lokasi untuk membuang jasad Feby. Saat melintas di kawasan Kalimalang, Jakarta Timur, keduanya panik lantaran melihat razia polisi di depan Mapolsek Metro Duren Sawit.
Edo memutuskan untuk membelokkan mobilnya ke arah TPU Pondok Kelapa untuk menghindari razia.

Kapolres Jakarta Timur, Kombes Pol Mulyadi Kaharni mengatakan, kedua pelaku kemudian turun dan meninggalkan mobil berisi jasad Feby.

"Aki mobilnya sempat mereka ambil. Aki itu sengaja diambil oleh pelaku untuk dipindahkan ke mobil lain yang rencananya akan digunakan untuk melarikan diri," ujar Mulyadi.

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.